Kirim Artikel

Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen yang Tak Perlu Banyak Bicara soal Toleransi

Dikutip Dari MOJOK.CO Setiap kali perdebatan tentang toleransi ramai di media sosial, ingatan saya selalu kembali pada kampus tempat saya menempuh pendidikan sebagai seorang muslim: Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) di Salatiga. Sebuah universitas berbasis Kristen yang berdiri di kota kecil di Jawa Tengah—kota yang ritmenya tenang, tidak hiruk-pikuk, tetapi justru terasa hangat dan manusiawi.

Salatiga bukan kota yang tergesa-gesa. Malam datang lebih cepat dengan suasana sunyi yang khas, namun justru meninggalkan kesan akrab bagi siapa pun yang pernah tinggal di sana.

Banyak orang merasa heran ketika tahu saya seorang muslim yang kuliah di kampus Kristen. Namun pengalaman yang saya jalani jauh dari gambaran dramatis tentang toleransi seperti yang sering dibayangkan. Tidak ada rasa terasing, tidak ada tekanan untuk menyesuaikan identitas, dan tidak ada momen merasa berbeda.

Di kampus ini, agama bukan label utama. Saya hadir sebagai mahasiswa, diperlakukan sebagai mahasiswa, dan dinilai berdasarkan kapasitas akademik. Sesederhana itu.

Menariknya, dari nama kampusnya saja identitas keagamaan sudah jelas. Namun tidak ada slogan besar tentang inklusivitas atau keberagaman yang dipromosikan berlebihan. Justru karena tidak sibuk membicarakan toleransi, nilai itu terasa berjalan secara alami dalam keseharian.

Hari-hari awal kuliah pun berlangsung biasa saja—tersesat mencari ruang kelas, salah gedung, mencoba menghafal nama teman baru, hingga kebingungan menghadapi perubahan jadwal kuliah. Tidak pernah ada pertanyaan bernada curiga tentang keyakinan saya.

Sebaliknya, percakapan yang muncul justru sangat khas kehidupan mahasiswa: mencari tempat kos murah atau rekomendasi warung makan hemat. Di situ saya mulai memahami bahwa toleransi terbaik mungkin memang yang hadir tanpa perlu dipamerkan.

UKSW Salatiga dan Kehidupan Kampus yang Minim Drama Identitas

Karakter kota Salatiga yang tenang terasa ikut membentuk suasana kampus. Tidak ada ambisi berlebihan untuk terlihat modern atau sensasional. Kehidupan berjalan sederhana dan relatif tertib, dan atmosfer itu terasa hingga ruang kelas.

Dosen mengajar tanpa membawa prasangka identitas mahasiswa. Agama hanya dibahas ketika relevan dengan materi akademik. Diskusi berlangsung terbuka, sementara tugas dan deadline tetap berjalan tegas tanpa kompromi.

Tidak ada perlakuan istimewa, tetapi juga tidak ada diskriminasi. Saya tidak pernah merasa harus mengubah diri agar bisa diterima di lingkungan kampus.

Hal-hal kecil justru menunjukkan praktik toleransi yang nyata. Saat kegiatan kampus berlangsung, pilihan makanan halal tersedia tanpa perlu diperdebatkan. Tidak ada seremoni khusus, namun kebutuhan itu dipahami sebagai sesuatu yang wajar.

Di UKSW, perbedaan bukan bahan pidato panjang atau jargon promosi. Ia dijalani begitu saja—alami, seperti suasana lalu lintas Salatiga yang relatif tenang tanpa banyak kebisingan.

Pengalaman tersebut membuat saya percaya bahwa bentuk toleransi paling sehat adalah yang tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang luar biasa. Tidak perlu pengakuan, tidak perlu klaim moral, cukup memperlakukan orang lain secara manusiawi sebagaimana mestinya.