Dikutip Dari MOJOK.ID, pengguna yang mengalami kendala saat memakai Coretax untuk melaporkan SPT Tahunan sering disarankan mencoba langkah sederhana: menghapus cache dan cookies browser, membuka mode private atau incognito, hingga menggunakan perangkat atau browser berbeda sebagai solusi awal.
Pagi ini saya memulai salah satu ritual wajib orang dewasa di awal tahun: melaporkan pajak. Ketika membuka situs resmi perpajakan, perhatian saya langsung tertuju pada sebuah judul artikel yang terdengar provokatif namun ramah: “Sudah Bayar Pajak, Mengapa Masih Harus Lapor SPT?”
Artikel tersebut memakai analogi celengan. Pajak diibaratkan sebagai tabungan bersama: ada uang yang kita setorkan sendiri dan ada pula yang disetorkan oleh pemberi kerja. Laporan SPT digambarkan seperti momen membuka celengan di awal tahun untuk memastikan jumlahnya sesuai—apakah kurang, pas, atau justru berlebih.
Penjelasan itu terasa hangat, hampir senyaman segelas teh manis di pagi hari. Namun realitas di lapangan sering kali tidak seindah ilustrasi sederhana tersebut. Saya bukan tipe warga yang gemar melawan aturan; justru termasuk orang yang menerima keadaan apa adanya. Tetapi pengalaman tinggal di dua negara berbeda membuat saya sadar bahwa menjadi wajib pajak di Indonesia memerlukan ketahanan mental lebih dari sekadar memiliki NPWP.
Kenangan Pajak yang “Terlalu Tenang” di Prancis dan Cina
Beberapa tahun hidup di Prancis dan hampir setahun di Cina memberi perspektif menarik. Kedua negara ini sangat berbeda secara budaya dan sistem, tetapi memiliki satu kesamaan: urusan pajak terasa sunyi dan nyaris membosankan.
Di Prancis, semuanya berjalan otomatis. Saya bekerja, pajak langsung dipotong, dan urusan selesai. Pernah suatu waktu saya mengalami kelebihan pembayaran pajak. Dengan pola pikir Indonesia, saya mengira masalah besar akan muncul.
Ternyata tidak ada drama sama sekali. Tidak ada panggilan, tidak ada permintaan dokumen tambahan. Tiba-tiba saja saldo rekening bertambah karena negara mengembalikan kelebihan pajak tersebut secara otomatis. Rasanya aneh, karena untuk pertama kalinya saya merasa dipercaya sepenuhnya sebagai wajib pajak.
Pengalaman serupa saya rasakan di Cina. Meski berpenduduk sangat besar, sistem perpajakannya berjalan efisien dan minim gangguan. Pajak dipotong rutin setiap bulan, sistem bekerja di belakang layar, dan hidup berjalan normal tanpa rasa cemas menjelang musim pelaporan.
Di sana, menjadi wajib pajak terasa pasif—bahkan cenderung membosankan.
Adrenalin Urus Pajak di Negeri Sendiri
Berbeda ketika kembali ke Indonesia. Mengurus pajak di sini sering terasa seperti hubungan penuh drama: ada rasa takut melakukan kesalahan dan kekhawatiran akan konsekuensinya.
Contohnya ketika status SPT menunjukkan “Lebih Bayar”. Secara logika, itu berarti negara berutang kepada wajib pajak. Namun dalam praktiknya, kondisi tersebut justru sering dianggap tanda masalah.
Biasanya tidak lama kemudian akan ada panggilan atau pesan dari petugas pajak. Dengan bahasa yang sopan namun membuat gugup, inti pembicaraan hampir selalu sama: kemungkinan terjadi kesalahan input dari pihak wajib pajak.
Sebagai warga yang terbiasa merasa bersalah lebih dulu, saya pun langsung menganggap diri keliru. Akhirnya laporan diperbaiki hingga statusnya berubah menjadi “Nihil”, kondisi yang terasa paling aman karena menandakan tidak ada selisih apa pun.
Jika memang ada kelebihan potongan pajak, biasanya perusahaan tempat bekerja yang mengembalikannya. Mekanismenya sering kali tidak sepenuhnya dipahami karyawan. Ketika dana pengembalian masuk, kami menerimanya begitu saja dengan rasa syukur, tanpa benar-benar memahami rumus perhitungannya.
Coretax: Revolusi Digital yang Katanya Mempermudah
Tahun ini pengalaman tersebut memasuki babak baru. Direktorat Jenderal Pajak memperkenalkan sistem digital bernama Coretax, yang disebut sebagai langkah modernisasi layanan perpajakan.
Namanya terdengar futuristik, seolah sistem canggih yang mampu menyederhanakan semua proses. Dengan semangat warga negara yang patuh, pada awal Februari 2026 saya mencoba melaporkan pajak melalui Coretax menggunakan laptop.
Dan seperti banyak cerita teknologi di Indonesia, petualangan pun dimulai — lengkap dengan saran paling populer di internet: cukup clear cache dan buka incognito window.







