Kirim Artikel

Ramai Ungkapan “Cukup Saya Saja yang WNI”: Saya Justru Bangga Melepas Paspor Austria Demi Indonesia

Dikutip Dari MOJOK.CO Belakangan ini media sosial diramaikan perdebatan soal identitas kewarganegaraan setelah seorang warga Indonesia mengungkapkan kebahagiaannya karena sang anak memperoleh paspor Inggris. Kontroversi muncul bukan semata karena paspor tersebut, melainkan kalimat yang ia sampaikan: cukup dirinya saja yang menjadi WNI, sementara anak-anaknya tidak perlu.

Pernyataan itu mungkin tidak dimaksudkan sebagai hinaan, tetapi bagi sebagian orang—termasuk saya yang pernah berstatus warga negara asing—ucapan tersebut terasa menyakitkan. Apalagi disampaikan oleh sosok yang pernah menerima beasiswa negara yang berasal dari pajak masyarakat Indonesia.

Ia kemudian menjelaskan bahwa dirinya telah memenuhi kewajiban kembali ke tanah air serta berkontribusi dengan membuka lapangan kerja. Namun perdebatan telanjur meluas setelah warganet menyoroti berbagai aspek latar belakang keluarga dan kewajiban penerima beasiswa yang dianggap belum sepenuhnya selesai.

Terlepas dari polemik tersebut, ada satu hal yang membuat saya terusik: bagaimana kewarganegaraan Indonesia sering diposisikan seolah sesuatu yang kurang layak dibanggakan.

Paspor Indonesia yang Sering Diremehkan Justru Mengubah Hidup Saya

Saya lahir dari keluarga perkawinan campur dan pernah memegang dua kewarganegaraan. Banyak orang menganggap paspor Indonesia lemah, tetapi bagi saya nilainya justru sangat mahal—bahkan lebih berharga dibanding paspor Austria yang dulu saya miliki.

Pada masa aturan kewarganegaraan lama, anak dari ibu WNI dan ayah WNA wajib mengikuti kewarganegaraan ayah. Akibatnya, selama bertahun-tahun saya harus berstatus warga negara asing di negeri tempat ibu saya lahir.

Orang tua saya harus membayar izin tinggal secara berkala agar saya bisa tetap tinggal di Indonesia. Biayanya tidak sedikit, dan banyak keluarga serupa yang kesulitan secara ekonomi karena aturan tersebut.

Baru pada 2006, setelah perubahan undang-undang, saya akhirnya memperoleh kewarganegaraan ganda. Itu pun merupakan hasil perjuangan panjang para ibu Indonesia yang sebelumnya mengalami diskriminasi hukum.

Kisah Lama yang Menunjukkan Rumitnya Status Kewarganegaraan

Pada awal 2000-an pernah ada kisah yang sangat membekas bagi saya. Seorang perempuan Indonesia tidak diizinkan keluar dari bandara ketika pulang untuk menghadiri pemakaman ibunya karena anak-anaknya berstatus warga negara asing.

Meski ia adalah ibu kandung mereka, aturan saat itu membuat situasinya menjadi rumit. Pada akhirnya, ia justru harus mengambil kewarganegaraan asing di bandara agar dapat masuk ke negaranya sendiri.

Bayangkan perasaan seseorang yang harus melepas identitas kebangsaannya hanya demi bisa menguburkan orang tua. Peristiwa seperti itu menunjukkan bahwa status kewarganegaraan bukan sekadar administrasi, melainkan persoalan emosional yang sangat dalam.

Memilih Indonesia Secara Sadar

Saya masih mengingat jelas momen ketika akhirnya diakui sebagai WNI. Ibu saya menangis haru, bukan karena anaknya mendapat paspor asing, tetapi karena anaknya akhirnya diakui oleh negaranya sendiri.

Prosesnya tidak murah dan penuh perjuangan, tetapi kebahagiaan saat itu terasa luar biasa. Banyak keluarga perkawinan campur lain bahkan ikut mengurus kewarganegaraan Indonesia bagi anak-anak mereka setelah melihat perubahan aturan.

Saat berusia 21 tahun, saya harus menentukan pilihan. Saya memutuskan melepas kewarganegaraan Austria dan memilih Indonesia sepenuhnya. Keputusan itu sering dianggap aneh, bahkan keliru, tetapi saya tidak pernah menyesalinya.

Paspor Asing Tidak Selalu Memberi Manfaat Nyata

Secara teori, paspor negara maju memang menawarkan banyak kemudahan. Namun dalam praktiknya, saya tidak benar-benar merasakan manfaat tersebut.

Ketika gempa besar melanda Yogyakarta pada 2006, saya menyadari bahwa status kewarganegaraan di atas kertas tidak selalu berarti perlindungan nyata. Kami tetap bertahan bersama masyarakat sekitar tanpa bantuan khusus dari negara asal ayah saya.

Sebagian besar hidup saya pun dihabiskan di Indonesia. Saya tidak menjalani kehidupan internasional seperti yang sering dibayangkan orang ketika mendengar kata “paspor asing”.

Jadi WNI Memang Tidak Mudah, Tapi Itu Pilihan yang Saya Banggakan

Jika tetap menjadi warga negara asing, hidup saya di Indonesia justru akan lebih rumit. Kepemilikan aset terbatas, urusan administrasi panjang, dan masa depan terasa tidak pasti.

Karena itu, saya mantap memilih menjadi WNI. Bagi saya, paspor Indonesia bukan sekadar dokumen perjalanan, melainkan hasil perjuangan panjang keluarga dan banyak orang sebelum saya.

Mungkin itulah sebabnya saya selalu merasa miris setiap kali mendengar kalimat, “cukup saya saja yang WNI.” Sesuatu yang diperoleh dengan mudah sering dianggap biasa. Sebaliknya, sesuatu yang diraih melalui perjuangan justru terasa jauh lebih berharga.