Kirim Artikel

Dilema Genteng Tanah Liat: Nyaman di Jogja, Tapi Menjadi Trauma di Sumatera Barat

Dikutip Dari MOJOK.CO Atap rumah berbahan genteng tanah liat memang dikenal mampu membuat ruangan terasa lebih sejuk. Namun bagi sebagian keluarga di Sumatera Barat, material ini justru meninggalkan pengalaman traumatis hingga membuat penghuni rumah takut tidur di dalamnya. Tulisan ini bukan bermaksud menolak program gentengisasi pemerintah secara mutlak, melainkan berbagi pengalaman pribadi tentang bagaimana pilihan material atap bisa menjadi persoalan serius, bahkan menyangkut keselamatan.

Saya berasal dari Solok, sebuah kota di Sumatera Barat yang berjarak sekitar 40 kilometer dari Padang. Sejak kecil, saya terbiasa tinggal di rumah beratap seng. Suara hujan yang memantul di atas seng menjadi irama malam yang akrab bagi kami.

Belakangan, orang tua saya membangun rumah baru di Padang dengan atap genteng tanah liat—sesuatu yang sebenarnya tidak lazim dalam tradisi pembangunan rumah di wilayah Sumbar.

Inspirasi Rumah Sejuk dari Yogyakarta

Perubahan pilihan atap itu tidak lepas dari pengalaman keluarga kami di Yogyakarta. Pada 1999 saya diterima sebagai mahasiswa di Universitas Gadjah Mada dan harus menetap di kota tersebut. Jogja memiliki suasana yang membuat banyak orang betah: ritmenya santai, udaranya bersahabat, dan lingkungannya terasa nyaman.

Beberapa tahun sebelumnya saya pernah tinggal sementara di rumah kos teman. Saat itu kami heran, mengapa udara di luar terasa sangat panas, tetapi bagian dalam rumah tetap adem. Di kampung halaman saya, kondisi seperti itu hampir mustahil terjadi karena atap seng cepat menghantarkan panas.

Ternyata rahasianya ada pada genteng tanah liat. Material ini memiliki kemampuan menahan panas sehingga suhu ruangan lebih stabil. Pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam tentang kenyamanan rumah beratap genteng.

Kemungkinan besar, pengalaman serupa juga dirasakan orang tua saya ketika beberapa kali berkunjung ke Jogja. Dari situlah muncul keputusan membangun rumah dengan atap genteng di Padang.

Ketika Genteng Menjadi Sumber Trauma

Beberapa tahun kemudian, keluarga kami menghadapi peristiwa yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Saat gempa besar mengguncang Sumatera Barat, saya dan istri yang berada di Jakarta dilanda kepanikan karena komunikasi terputus dan berita televisi menampilkan kerusakan di berbagai wilayah.

Kami segera terbang ke Padang untuk memastikan kondisi keluarga. Sesampainya di sana, situasi yang kami lihat sangat memilukan. Adik saya bahkan tidak berani masuk rumah karena trauma, memilih tidur di dalam mobil.

Saat memeriksa bangunan, saya menemukan atap lantai dua rumah sudah runtuh. Beban genteng tanah liat yang berat menjadi faktor utama. Ketika gempa mengguncang kuat, struktur bangunan tidak mampu menahan tekanan, sehingga genteng jatuh menghancurkan plafon dan ruangan di bawahnya.

Banyak korban gempa saat itu bukan hanya akibat guncangan, tetapi karena tertimpa material bangunan yang berat.

Belajar dari Pengalaman: Aman Lebih Penting dari Estetika

Melihat langsung kerusakan tersebut, ayah saya segera mengambil keputusan mengganti seluruh atap rumah. Genteng tanah liat diganti dengan material metal yang jauh lebih ringan.

Sejak pergantian itu, rumah terasa lebih aman. Guncangan susulan tidak lagi menimbulkan kekhawatiran berlebihan. Pengalaman pahit tersebut mengajarkan bahwa kenyamanan dan tampilan estetis tidak sebanding dengan risiko keselamatan di daerah rawan gempa.

Tidak Semua Daerah Cocok dengan Genteng Tanah Liat

Dari pengalaman ini, saya menyadari bahwa kebijakan pembangunan tidak bisa disamaratakan di seluruh Indonesia. Setiap wilayah memiliki kondisi geografis dan risiko bencana yang berbeda.

Daerah seperti Yogyakarta mungkin cocok menggunakan genteng tanah liat karena faktor lingkungan dan struktur tanahnya. Namun wilayah yang berada di jalur gempa aktif seperti Sumatera Barat membutuhkan material yang lebih ringan agar risiko runtuhan dapat diminimalkan.

Kearifan lokal sebenarnya sudah lama memahami hal ini. Rumah Gadang Minangkabau dibangun menggunakan struktur kayu yang fleksibel dan atap ringan, sehingga lebih tahan terhadap guncangan.

Pentingnya Mempertimbangkan Kondisi Lokal

Program nasional seharusnya tetap memperhatikan karakter tiap daerah. Kebijakan yang baik tidak selalu berarti cocok diterapkan secara seragam. Tanpa pertimbangan geografis, niat baik justru bisa berubah menjadi ancaman bagi keselamatan warga.

Bagi masyarakat di wilayah rawan gempa, material ringan seperti seng atau atap metal mungkin tidak selalu paling nyaman, tetapi jauh lebih aman. Dan dalam kondisi tertentu, rasa aman jelas menjadi prioritas utama dibandingkan kesejukan semata.