Dikutip dari MOJOK.CO – Yogyakarta dikenal sebagai kota tujuan para perantau, terutama bagi mereka yang ingin menempuh pendidikan. Julukan Kota Pelajar membuat daerah ini selalu dipenuhi mahasiswa dari berbagai wilayah, termasuk dari Pati. Tak sedikit perantau yang akhirnya menetap dan bahkan memiliki KTP Jogja.
Meski jarak antara Pati dan Yogyakarta tidak terlalu jauh, perbedaan budaya sehari-hari ternyata cukup terasa. Salah satu perantau asal Pati mengaku sempat mengalami culture shock saat pertama kali tinggal di Jogja. Ada beberapa hal yang dianggap biasa di Pati, tetapi terasa tidak lazim di Yogyakarta.
1. Kebiasaan menyalip dari kiri saat berkendara
Perbedaan paling mencolok ada pada cara berkendara. Di Pati, menyalip kendaraan dari sisi kiri cukup sering dilakukan. Sementara di Jogja, pengendara lebih terbiasa menyalip dari kanan. Perbedaan ini sempat membuat perantau asal Pati mendapat teguran dari pengguna jalan lain.
Selain itu, gaya berkendara di Pati cenderung lebih agresif dan sering menggunakan klakson. Sebaliknya, lalu lintas di Jogja dikenal lebih santai dan minim bunyi klakson, sehingga penggunaan klakson di persimpangan bisa menarik perhatian.
2. Tradisi seserahan pernikahan yang mewah
Dalam budaya pernikahan di Pati, seserahan sering ditampilkan secara mencolok dengan berbagai barang bernilai tinggi, mulai dari pakaian, sepatu, hingga perabot mewah. Bahkan ada yang menghadirkan kendaraan sebagai bagian dari seserahan.
Di Yogyakarta, tradisi pernikahan umumnya lebih sederhana dan tidak menonjolkan pameran barang seserahan dalam jumlah besar, meskipun tetap ada yang mengadakan acara secara meriah.
3. Akses hiburan modern yang berbeda
Bagi warga Pati, menikmati hiburan modern seperti mal, bioskop, atau gerai makanan waralaba sering kali membutuhkan perjalanan ke kota lain seperti Kudus atau Semarang.
Berbeda dengan Jogja yang memiliki banyak pusat perbelanjaan dan tempat hiburan dalam satu kota, sehingga lebih mudah dijangkau. Perbedaan ini cukup mengejutkan bagi perantau yang baru pertama kali tinggal di Yogyakarta.
4. Perbedaan tingkat panas cuaca
Cuaca panas di Pati dikenal lebih ekstrem. Bukan hanya terik matahari, tetapi juga hembusan angin yang terasa panas dan membuat gerah.
Sementara itu, meski Jogja juga panas, angin yang berembus masih terasa lebih sejuk dibandingkan dengan kondisi di Pati.
5. Volume suara saat berbicara
Gaya komunikasi juga menjadi perbedaan yang terasa. Orang Pati terbiasa berbicara dengan suara yang lebih keras, sesuatu yang dianggap normal di lingkungan pesisir.
Namun di Jogja, cara berbicara cenderung lebih pelan dan halus. Karena itu, perantau asal Pati biasanya perlu menyesuaikan volume suara agar tidak dianggap terlalu keras.
Perbedaan-perbedaan ini menunjukkan bahwa meski masih berada dalam satu provinsi, setiap daerah memiliki kebiasaan dan budaya yang unik. Pengalaman ini bukan untuk membandingkan, melainkan sebagai gambaran bagi calon perantau agar lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan baru.







